Asal Usul Sejarah Gunung Pinang Cilegon Banten

oleh -
Asal Usul Gunung Pinang
Asal Usul Gunung Pinang

ViralBanten.com – Cerita rakyat dari Banten selalu memberi kita di dalamnya kebijaksanaan. Sebagai cerita rakyat Banten yang pernah di posting sebelumnya Contoh Pendek Tales Sunda Banten. Salah satu koleksi cerita rakyat dari Banten kali ini memberi kita pelajaran yang sangat berharga. Mari kita ikuti kisah

Cerita Rakyat Dari Banten Kisah Asal Muasal Gunung Pinang

Sekali waktu, di sebuah kota pesisir Banten. Hiduplah seorang janda dengan anaknya. Anak itu bernama Dampu Awang. Hidup mereka sangat miskin dan kurang mampu.

Namun, meskipun mereka hidup sangat miskin Dampu Awang memiliki aspirasi yang sangat tinggi. Ia ingin menjadi seorang pedagang kaya. Namun, gol tersebut sangat sulit untuk raihnya. Apalagi untuk menjadi seorang pedagang kaya. Pekerjaan yang masih ia tidak memiliki.

Suatu hari, ada sebuah kapal berlayar berlabuh milik seorang saudagar kaya bernama Teuku Abu Matsyah. Orang kaya perdagangan pedagang AKN di Banten. Melihat kapal pedagang kaya, timbul keinginan untuk bekerja di sana sebagai kru. Dia segera kembali ke rumah dan mengungkapkan keinginannya untuk dia.

” Ibu, ada kapal di pelabuhan pedagang yang sangat kaya yang diperdagangkan di sini. Saya ingin bekerja di perahu. Kalau aku beruntung, mungkin aku bisa menjadi seorang pedagang kaya tampaknya. Ibu, saya bisa pergi berlayar bersamanya? Tanya Dampu Awang.

Namun, ibunya langsung melarang.

‘’ Tidak anakku! Kau tidak boleh ikut berlayar bersama sudagar kaya itu.’’ Jawab sang ibu tegas.

‘’ Mengapa bu? Dengan cara aku bekerja di kapal tersebut. aku dapat membantu ibu untuk memenuhi kebuhuhan kita. Apalagi jika suatu saat nanti aku bisa menjadi saudagar kaya. Kehidupan kita akan berubah.’’ Kata Dampu Awang.

‘’ Tidak Nak! Ibu sangat takut. Jika kau sudah menjadi kaya nanti. Kau pasti akan lupa dengan ibumu yang miskin ini.’’ Kata ibunya sedih.

Namun, Dampu Awang terus saja merengek agar diijinkan untuk pergi berlayar. Akhirnya, dengan berat hati sang ibu pun mengalah. Sang ibu mengizinkan Dampu Awang untuk ikut berlayar bersama saudagar itu. Tetapi, sang ibu meminta Dampu Awang untuk berjanji agar ia selalu memberikan kabar. Sebelum berangkat, sang ibu menitipkan Burung kesayangan milik ayahnya.

‘’ jagalah Burung itu baik-baik Nak, dan jangan lupa untuk memberikan kabar.’’ Kata ibuya.

‘’ Baik bu, aku tidak akan melupakan pesan ibu.’’ Kata Dampu Awang.

Sang ibu pun menangis dan memeluk anaknya dengan sangat erat. Dampu Awang pun langsung naik kapal dan siap untuk berlayar ke malaka.

Selama di kapal, Dampu Awang dikenal sebagai pekerja yang sangat rajin. Ia selalu menjalankan perintah majikannya dengan baik. Saudagar Teuku Abu Matsyah sangat senang melihat semangat Dampu Awang. Jabatannya terus naik dan selalu memuaskan.

Suatu hari, saudagar kaya itu memanggil Dampu Awang

‘’ Ampun Tuanku! Ada keperluan apa tuan memanggil saya?’’ kata Dampu Awang.

‘’ Begini Dampu Awang. Aku melihat pekerjaan mu ini sangat baik. Selama kau bekerja di sini, kau selalu menunjukkan rasa hormatmu. Aku sangat ingin menjodohkanmu dengan putriku. Siti Nurhasanah. Bagaimana? Apakah kau mau menikah dengannya?’’ ujar Teuku Abu Matsyah.

Dampu Awang sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan majikannya tersebut. ia pun sangat senang.

‘’ Tentu saja saya bersedia Tuan.’’ Jawab Dampu Awang.

Sejarah Gunung Pinang Banten

Sejarah Gunung Pinang Banten
Sejarah Gunung Pinang Banten

Akhirnya, pernikahan pun dilaksanakan dengan sangat meriah. Setelah menjadi menantu saudagar kaya. Ia di percaya untuk menyimpan seluruh harta mertuanya tersebut. Setelah mereka menikah, Teuku Abu Matsyah jatuh sakit dan meninggal dunia. Dampu Awanglah yang menggatikan posisi ayah mertuanya tersebut.

Setelah menjadi saudagar kaya. Ia melupakan ibunya. Ia tidak pernah lagi memberikan kabar dan terlena dengan kemewahan. Suatu hari, Dampu Awang dan istrinya berlayar ke wilayah pantai Banten. Tibalah mereka di daerah tempat tinggal Dampu Awang.

Seluruh pernduduk sangat terpukau melihat kemewahan kapal Dampu Awang. Para penduduk beramai-ramai datang ke pelabuhan untuk melihat kapal layar yang sangat mewah tersebut. kabar tentang berlabuhnya kapal layar yang mewah itu terdengar oleh sang ibu Dampu Awang. Ia sangat yakin saudagar kaya itu adalah anak laki-lakinya. Ia pun langsung bergegas datang ke pelabuhan untuk bertemu dengan Dampu Awang.

Setibanya di pelabuhan, ibu Dampu Awang melihat anaknya berdiri di pinggir kapal dan mengenakan pakaian yang sangat mewah. Selain itu, sang ibu pun melihat ada seorang wanita yang sangat cantik berdiri di sampingnya. Sang ibu sangat senang karena anaknya, sekarang sudah memiliki seorang istri. Ia langsung berlari ke arah kapal mendekati anaknya tersebut. Ia berlari dengan cepat dan berteriak memanggil nama anaknya.

‘’ Dampu Awang anakku, kau sudah kembali Nak, ibu sangat merindukanmu.’’ Kata sang ibu menangis bahagia.

Dampu Awang sangat terkejut melihat seorang perempuan tua yang pakaiannya compang-camping dan sangat dekil sekali. Ia sangat mengenal wajah perempuan yang memanggil-manggil namanya tersebut. Ia tahu bahwa perempuan itu adalah ibunya. Namun, ia sangat malu mengakui perempuan yang seperti pengemis itu ibunya.

‘’ Kang, apakah perempuan tua itu adalah ibumu? Mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakan jika masih mempunyai seorang ibu?” Tanya istrinya heran.

‘’ Bukan sayang! Perempuan tua itu bukan ibuku. Ibuku sudah lama meninggal. Ia hanya seorang perempuan yang gila. Sudah abaikan saja perkataannya itu. Sungguh tidak penting!’’ kata Dampu Awang.

Sang ibu terus-menerus memanggil namanya.

‘’ Hei, perempuan tua! Diamlah! Kau bukan ibuku. Aku sudah tidak memiliki ibu. Ibuku sudah lama meninggal!’’ kata Dampu Awang sangat kesal.

Dongeng Sejarah

Sang ibu sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan anak laki-lakinya itu. Kini ketakutannya menjadi kenyataan. Hatinya bagaikan teriris-iris. Kini, anak kandungnya sendiri tidak mengakuinya sebagai ibunya. Air matanya pun membasahi pipinya. Tanpa sadar ia berdoa.

‘’ Ya Tuhan, apakah aku salah? Jika dia bukan anakku Dampu Awang, biarkanlah dia pergi. Tetapi, jika dia anakku. Tolong berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!’’ doa sang ibu.

Tidak lama kemudian, bumi seketika bergetar. Langit bergemuruh. Petir pun menyambar sangat dasyat. Langitpun berubah menjadi sangat gelap. Tiba-tiba, terjadilah badai. Kapal layar Dampu Awang yang sagat mewah itu terombang-ambing di lautan. Seluruh isinya porak-polanda. Dampu Awang dan istrinya sangat panik dan bingung

Tiba-tiba, Burung peliharaan Dampu Awang berbicara.

‘’ Dampu Awang! Akuilah perempuan itu sebagai ibumu. Cepatlah akui dia!’’ kata sang Burung.

‘’ Tidak, ibuku sudah lama mati.’’ Teriak Dampu Awang.

Seketika, kapal layar Dampu Awang tiba-tiba terangkat ke udara dan terlempar ke sebelah selatan dan seluruh isinya. Kapal itu tertelungkup dan membentuk sebuah gunung. Dampu Awang dan istrinya tidak dapat menyelamatkan diri. Setelah itu lautan kembali seperti semula dan seolah tidak terjadi apa-apa.

Gunung tersebut di kenal dengan nama Gunung Pinang. Dan hingga kini, gunung tersebut masih ada dan letaknya di antara kota Serang dan Cilegon.

Pesan moral dari cerita rakyat dari Banten adalah hormati dan sayangi orang tuamu selagi dia masih hidup. Durhaka terhadap orang tua hanya akan membuat kita tidak bahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *